Saturday, 29 December 2012

Galenia MCC (1)

Alhamdulillah, setelah berkali-kali ga jadi datang ke galenia, akhirnya kemarin menyempatkan datang ke sana. Walaupun gerimis, tetap pergi, ada jas hujan ini, daripada ga jadi lagi ga jadi lagi.
Kemarin di jemput Akang di dipo sekitar jam 12, langsung menuju badaksinga. Sempat khawatir di galenia ga ada orang karena sedang jam istirahat, tapi alhamdulillah ternyata ada. Setelah parkir, titip helm dan jas hujan, masuk deh. Begitu masuk suasana nyamanlangsng terasa. Front office nuansa ungu membuat betah lama-lama di sana. Alhamdulillah mbak-mbak yang jaga juga ramah.
"Selamat siang bunda, ada yang bisa kami bantu?" Wuiih, langsung deh ga pake basa basi nanya-nanya tentang lahiran di galenia. Kami mendapat penjelasan dari mulai prinsip gentle birth yang diusung galenia, fasilitas, syarat dan ketentuan, prosedur jika ada rujukan, biaya dan banyak lagi. Kami juga diajak keliling keliling untuk melihat ruang rawat yang ada. Di sana ternyata hanya ada 4 ruang rawat, makanya galenia menerapkan sistem booking. Semua ruang rawat tanpa kelas, semuanya vip dengan eksklusif bed, tv, ac, meja, karpet, sofa untuk pendamping, dan box bayi tentunya (rooming-in sudah pasti). Saya juga melihat ada speaker di atas meja. Ya, di sini kita dipersilahkan memilih sendiri jenis musik yg ingin dinyalakan selama proses persalinan dan aromaterapi jenis apa yg kita sukai. Yang membedakan setiap ruang hanya nuansa warna. Ada yang hijau, ungu, biru dan coklat. Ada yg punya balkon, ada yg ngga. Yang ga ada balkon ruangnya lebih luas. Kemarin tidak bisa lihat ruang biru karena sedang ada bunda lain yang habis melahirkan.
Setelah puas keliling lihat ruang rawat, toilet, ruang vk, taman dll, kami kembali ke depan dan mantap untuk memilih galenia sebagai tempat lahiran nanti. Booking deh. Dengan 300rb alhamdulillah lumayan juga privilage yg di dapat. Tentang booking dan gimana-gimananya, nanti di postingan selanjutnya ya. Kemarin rencananya mau sekalian cek ke bidannya, tapi ternyata ga bisa langsung. Harus daftar dulu. Setiap jadwal dibatasi hanya 5 orang saja. Saya pun daftar untuk jadwal konsul nanti senin.
Ini sebagian ruangan yg saya lihat. Foto-foto ini saya ambil dari fbnya GaleniaMCC.



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, 27 December 2012

No Title (again)

Alhamdulillah, Betul ya banyak orang bilang, anak itu bawa rezeki.. Alhamdulillah, sejak ada dedebayi di peruut, adaa ajaa rezekinya. Pernah nih lagi perlu uang tak terduga, agak bingung karena tanggal gajian masi lama, eh, alhamdulillah ada bonus. Atau nih pas awal hamil, lagi pengeeen banget makan mangga, tapi males keluar eh ada tetangga ngasih. Lainnya pernah nih berencana buat belanja2 baj hamil karena baju yang ada udah pada sesak atau ga muat, alhamdulillah, ateunya debay beliin baju kerja bumil yang lucuu banget. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Alhamdulillah.
Hari ini berencana ke kecamatan buat ngurus e-ktp, tadi kepikiraan pengen banget eskrim. Pas nyampe rumah, alhamdulillah, mama pulang dari griya bawa eskrim campina buaanyaaak. Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah.


O ya, di Griya Grand Cinunuk Bandung, eskrim campina 700ml harganya cuma 14rb loooh. Borong yooook. :D


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Another Kegejean

Berada di lingkungan pendidikan, bersama dengan orang-orang berbackground pendidikan yang sedang asyik mengerjakan perangkat pembelajaran. Tepat di sebelah saya, pengajar (atau guru, tepatnya) matapelajaran yang sama dengan saya, sedang mengerjakannnn program tahunan katanya. Di sebelahnya lagi, ntah lah apa yang dikerjakan. Nah saya? Koq malah posting?
Pertama, saya tidak bawa laptop. Untunglah posting ini bisa pake bb.
Yang kedua, kalopun saya bawa laptop, haduh, hati ini sama sekali tidak tergerak untuk mengerjakan segala macam perangkat pembelajaran itu. Huueek. Haduh gimana ya, biar saya ga males untuk belajar dan mengerjakan that s**t thing? Astagfirullah.
Beberapa saat lagi saya mau pergi nih, mau maen ke galenia, sekalian booking buat lahiran ntar. Bye.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Wednesday, 12 December 2012

ReBlog: GENTLE BIRTH: PILIHAN PERSALINAN MASA KINI


Postingan kali ini benar-benar 100% reblog dari bidanshop. Ya, saya sedang banyak-banyak mencari tau tentang Gentle-Birth, daripada ngebookmark, mending saya reblog saja.
Metode persalinan gentle birth memang sedang banyak diminati oleh calon ibu di dunia, terutama di kalangan public figure. Sebut saja Demi Moore, Gwyneth Paltrow, Katie Holmes, Oppie Andaresta, dan sebagainya, pernah mencoba teknik ini dan merasakan manfaatnya.

1. Gentle birth merupakan metode persalinan yang menggabungan persiapan pikiran dan mental dengan latihan self hypnosis atau hipnosis diri, sejak awal kehamilan hingga proses persalinan berlangsung. Metode persalinan bisa dilakukan secara konvensional maupun alternatif. Syaratnya, kehamilan harus bebas risiko sama sekali dan bukan kehamilan kembar (dr. Ali Sungkar, SpOG spesialis kandungan dan kebidanan FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta)


2. Gentle birth merupakan proses persalinan alami yang berlangsung dengan lembut untuk menyambut jiwa yang lahir ke dunia. Penolong dan pendamping harus membantu dengan tenang dan suara yang lembut, sehingga pada saat bayi lahir, suasana di sekelilingnya tenang, hening dan penuh kedamaian. Hal ini bertujuan agar ibu tetap dapat mempertahankan kondisi relaksasi yang dalam (meditatif) selama persalinan berlangsung (Lanny Kuswandi, pakar hypnobirthing dari Pro V Klinik, Jakarta).


Beberapa persyaratan yang harus Anda penuhi terkait kondisi kesehatan dan kehamilan, Jika Anda ingin mencoba berbagai pilihan gentle birth, Antara lain:

a. Tidak berada pada rentang usia untuk hamil yang berisiko tinggi, yaitu di atas 35 tahun.
b. Merupakan kehamilan tunggal, bukan kembar.
c. Selama masa kehamilan tidak ada masalah kesehatan berarti pada ibu dan janin.
d. Posisi janin normal dan tidak memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan.
e. Tidak ada gejala cairan ketuban pecah dini.
f. Tidak ada riwayat komplikasi kehamilan maupun persalinan sebelumnya

Berbagai Pilihan Gentle Birth


Home birth/melahirkan di rumah.

Tentunya bisa melahirkan di lingkungan dan suasana yang familiar dan nyaman akan sangat menyenangkan. Dalam proses melahirkan, Anda bisa didampingi tenaga medis atau tanpa didampingi tenaga medis –hanya ditemani pasangan, sahabat atau anggota keluarga yang memberi dukungan moral untuk menciptakan rasa aman, nyaman dan bahagia. Namun, di Indonesia cara ini kurang dianjurkan mengingat standar persyaratan higienis dan penunjang lainnya belum terjamin benar. Batalkan rencana ini bila terjadi komplikasi pada kehamilan atau pada saat persalinan. Anda perlu segera ditransfer ke rumah sakit bersalin karena dibutuhkan penanganan yang lebih rumit dan dengan sarana medis yang lengkap.

Silence Birth.

Tak ada aba-aba “Dorong! Dorong lagi!” untuk menyemangati ibu mengejan pada persalinan dengan cara ini. Metode yang dikembangkan oleh Ron L. Hubbard dari aliran Scientology ini menghindari suara, baik oleh ibu yang melahirkan maupun tenaga medis dan pendamping, sehingga tercipta suasana tenang, hening, damai, serta penuh cinta dan kebahagiaan. Suasana seperti itu menunjang ibu mampu menggunakan alam bawah sadarnya untuk menjalani persalinan serta mengalihkan persepsi rasa sakit dalam pikirannya. Batalkan rencana ini bila terjadi komplikasi pada kehamilan atau pada saat persalinan.

Hypno Birthing.

Sebelum proses persalinan –bahkan selama kehamilan– ibu melakukan self hypnosis untuk mencapai kondisi relaksasi yang dalam (meditatif) dan membebaskan diri dari rasa takut melalui latihan pernapasan. Dalam kondisi ini, tubuh akan memproduksi senyawa pereda rasa sakit alami yaitu hormon endorfin. Rasa sakit selama proses persalinan akan teralihkan dan minimal, atau hingga tak terasa. Dalam prosesnya ibu juga disemangati untuk melakukan visualisasi positif bahwa melahirkan itu lembut, bebas dari rasa takut, dan mudah. Batalkan rencana ini bila terjadi komplikasi medis pada ibu dan janin, bayi dalam kondisi tak normal atau bila bibir rahim tak cukup lebar.

Water Birth.

Rasa sakit pada saat persalinan dikurangi dengan menggunakan sarana berupa air hangat. Ibu dibiarkan bebas mengatur sendiri posisi yang paling nyaman. Sebaiknya, ibu masuk ke dalam air setelah mencapai pembukaan 6, karena masuk ke dalam kolam atau bak mandi terlalu awal malah akan memperlama proses melahirkan karena air hangat membuat tubuh menjadi relaks.

Sebelum masuk air, ibu harus minum banyak air putih karena berendam dalam air hangat dapat menyebabkan dehidrasi dan menurunkan level energi. Dehidrasi menghambat otot-otot tubuh bergerak efisien dan menyebabkan lelah. Batalkan rencana ini bila mekonium (pup pertama bayi) keluar ketika air ketuban pecah atau bayi Anda mengalami komplikasi, bila terjadi perdarahan pada ibu, terjadi keterlambatan pada pembukaan satu-dua atau bila kepala bayi tidak berada di bawah di jalan lahir.

Friday, 7 December 2012

Coretan ngawur, ga usah dibaca!

Sudah lebih dari 6 bulan merasakan hal ini. Lelah, bete, mood jelek mulu, males, sedih. Hari ini, semua itu terasa berlipat ganda. Ingin menangis rasanya, andai di sekeliling tak banyak anak-anak itu.
Sering saya berfikir, saya merasakan begini ini karena saya sangat kurang bersyukur. Di luar sana banyak orang yang menginginkan pekerjaan seperti ini, orang-orang sekitar saya pun sering mengatakan bahwa ini adalah  pekerjaan terbaik, untuk perempuan. 
Saat ini saya adalah PENGAJAR, ya, PENGAJAR, bukan GURU. Tak pernah terbayang saya akan menjadi seorang guru. Bahkan, ketika jaman SD ditanya cita-cita mau jadi apa, di antara sekian banyak cita-cita saya yang sering berubah-ubah, tak pernah terlintas menjadi GURU. Semua orang tau, katanya menjadi seorang guru itu pekerjaan yang sangat mulia, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, benarkah?
Saya senang mengajar memang. mengajar. Sebatas transfer ilmu, berbagi yang saya tahu dan saya bisa. Sementara GURU, saya sama sekali tidak berminat. Menjadi GURU, yang diguGu dan ditiRU, rasanya saya tidak mempunyai kemampuan di sana, mungkin tepatnya tidak memiliki keinginan. Lantas mengapa sekarang saya ada di sini?
Sebelum ke sini, sebelum lulus kuliah bahkan, saya pernah beberapa kali menjadi asisten di 2 Lab di prodi, saya juga pernah menjadi tutor di sebuah bimbel khusus untuk mahasiswa TPB, sambil sesekali mengajar privat siswa SMA. Kemudian saya menjadi tutor juga di sebuah bimbel ternama untuk SMA. Semua itu saya jalani di sela-sela kuliah, di sela kesibukan praktikum dan membuat laporan, di tengah ke-riweuh-an membuat paper atau mempersiapkan presentasi. Atau sering kali saya ikut ke lapangan, survey-survey, ambil data akuisisi. Kadang ikut mengolah data sampai menginterpretasi. Lelah iya, namanya di lapangan ya. Apalagi jika ga pake tenaga lokal, pasti ikut bantu bawa alat juga (walopun dapetnya yang ringan-ringan aja sih). Alhamdulillah. Ketika itu saya tak mengeluh, padahal hasil yang diperoleh  lebih kecil -jika dibandingkan sekarang-.
Ketika selesai sidang dan dinyatakan lulus -dan masih harus nunggu 4 bulan untuk wisuda dan dapat ijazah - sampe lah saya ke sini. Sambil nunggu ijazah, lumayan lah daripada nganggur ga jelas. Awal masuk sini, bukan sebagai tutor apalagi GURU, tapi litbang. SK pengangkatan karyawan yang saya peroleh pun SK litbang. Kemudian diterjunkan menjadi tutor. Alhamdulillah, masih menikmati. Sampai pas taun ajaran baru tahun lalu mulai lah masuk ke sekolah. 
Nah, di sini penderitaan saya dimulai. OK tidak ada masalah berarti ketika saya harus mengajar di kelas, karena pada dasarnya saya memang senang berbagi ilmu. Tapi ketika harus melakukan kewajiban lain, whuaaaaaaaaaa, rasanya berat sekali. Jika hanya sebatas memberikan latihan, PR, tugas, ataul ulangan, kemudian memeriksa dan menilai, its ok, saya masih bisa. Tapi ketika berkaitan dengan administrasi pembelajaran, wew, saya yang buta sama sekali tentang hal ini ya ogah lah. Background saya yang BUKAN dari pendidikan membuat saya bengong begitu ngomongin maslah silabus, RPP, program tahunan, program semester dan entah apalagi lah itu. Sebenarnya jika mau belajar, tentulah saya bisa mengerjakan hal-hal itu. Tapi jangankan mempelajari, mendengarnya pun sudah membuat saya eneg setengah mati. Saya lebih memilih membuat pembahasan ratusan soal UN dan SNMPTN, atau megerjakan soal turunan dan intergral lipat, atau mengolah data self potential berhari-hari, atau menginterpretasi data seismik, atau melakukan akuisisi di lapangan dan lain sebagainya yang saya anggap jauuuuh lebih menyenangkan dibanding segala macam administrasi pembelajaran itu.Selain itu, mendidik siswa juga ternyata sama sekali tidak mengasyikan. Di tambah lagi, sekolah yang memang menangani anak per-individu ini membuat tambah tidak betah. Sesekali asyik memang, tapi jika harus setiap hari rapat untuk membahas masalah anak, ih, ogah. Memperhatikan anak satu persatu, mulai dari kehadiran, kedisiplinan, masalah akademik, sikap,  kesehatan bahkan sampai masalah keluarganya. Berkomunikasi dengan orang tua tiada henti, dan lain-lain. Belum lagi waktu libur yang sangat jarang. Sabtu masuk, tidak ada hari ke jepit, kalaupun siswa sedang libur semester, lah kita harus tetap masuk koq, mengerjakan ini itu yang kadang ga jelas juga. :(
Ok, ada yang bilang, resiko kamu lah, kamu sekarang ada disini, ya harus mau mengerjakan itu semua. hueeek. Saya lebih memilih mundur dan mencari pekerjaan lain. Masalahnya, saya terlanjur menandatangani kontrak kerja selama 3 tahun, dan saat ini, saya baru menjalani 21 bulan. Masih lama. 
Nah, masalah kontrak ini pula, sebenarnya saya sendiri ga yakin dengan kekuatan hukum kontrak itu. Telah banyak poin-poin yang dilanggar oleh pihak mereka, dan akhirnya saya pun ikut melanggar. Sama-sama sudah tidak sesuai kontrak sebenarnya. Di mulai dari jam kerja, di kontrak tercantum bahwa jam kerja saya adalah 7 jam> di awal, sebelum masuk ke sekolah, ketika saya -dan teman2 senasib- masih memiliki ruangan yang kami sebut akuarium, jam kerja itu memang benar 7 jam. Masuk jam 6.30 dan keluar 13.30. Sekarang, aturannya jam kerja itu 8 jam, masuk 6.30 sampe 14.30 kecuali hari sabtu hanya sampe jam 12. Dan hanya dikasih pemberitahuan, tanpa perubahan kontrak kerja.
Selanjutnya adalah masalah gaji. Di kontrak, gaji pokok kami adalah sekian, dengan catatan jika jam kerja tidak sesuai maka gajipun disesuaikan. Di awal masa kerja, ini tepat. Gaji saya dibayar sekian. Oh ya, setiap hari kami mendapat jatah makan siang. Alhamdulillah. Makanan lengkap gizi seimbang dengan porsi cukup, sampai suatu hari makan siang ini jadi "diuangkan". Ok, jadi saya terima gaji "sekian + uangmakan". Kalo ada lembur berarti + uang lembur. Ketika pekerjaan bertambah, jadi walikelas misalnya, maka  gaji saya pun bertambah uang walikelas. Jumlah totalnya lumayan lah. Jauh dengan gaji guru honor di kampung saya sana yang hanya sekian ratus ribu saja. Untuk saya cukup. Walaupun tentu masih jauuh di bawah gaji teman-teman sejurusan (se-lab terutama) yang bekerja di bidangnya :(. Saya lupa mulai kapan, yang pasti sampai sekarang, rincian gaji berubah. Di slip itu ada rincian sebagai berikut : gaji pokok, tunjangan fungsional, tunjangan keluarga, tunjangan pengabdian, uang makan, uang transport, uang walikelas, dan banyak entah apalagi. Ok ga masalah, lebih rinci lebih bagus. Tapi, di sana gaji pokok saya tidak lagi sekian, tapi jadi jauh lebih kecil. Memang ada tambahan tunjangan ini itu, tapi koq ya, kalau ditotal jumlahnya jadi berkurang. Padahal tidak ada pengurangan pekerjaan. Ya,saya kehilangan sekian ratus ribu setiap bulan T_T. Saya pernah mempertanyakan hal ini, tapi sampai sekarang  saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan dan bisa diterima logika. 
welwh, jadi curhat ngelantur kemana-mana.
Yah, pokoknya saya udah enegh ah di sini, kalau bisa sih saya ingin kembali jadi geophysicist saja. Ke lapangan buat survey, ambil data kemudian mengolah data berhari-hari bahkan berminggu-minggu,  kemudian interpretasi, menyusun laporan, presentasi hasilnya ke klien, dll. Tapi nampak tidak mungkin, karena saya sedang hamil, alhamdulillah, hehe. Cukup suami saja yang geophisicist. Saya bantu-bantu aja sedikit.
Masa kontrak masih 15 bulan lagi. Mudah-mudahan saya tetap bertahan. Setelah itu, insyaallah saya akan mundur baik-baik. Saya di rumah aja jadi full-time-mother. Jadi kan bisa ngikut kemanapun suami ditugaskan.