Thursday, 11 December 2014

Chat Tentang Sina

Hello, i am back.

Assalamualaikum.
Ah, lama sekali blog ini saya tinggalkan. Bukan karena saya sangat super sibuk, tetapi karena susah sekali bisa duduk lama depan laptop dengan tenang dan santai. Sebenernya kalo saya niat bisa aja sih posting lewat hp android saya, tapi apa daya jempol saya kegedean jadi kalo ngetik banyak-banyak luaama banget karena harus sering-sering hapus dan ganti huruf.  
Pertama posting setelah lama libur saya mau curhat tentang kegalauan saya. Apalagi kalau bukan masalah working mom vs stay at home home. Sudah hampir 2 tahun saya berhenti kerja, dan sampai saat ini masih banyak yang nanya ‘kapan masuk kerja lagi?’ atau ‘ih sayang lulusan ITB koq cuma jadi ibu rumahtangga aja?’ atau ‘ga sayang itu ijazahnya nganggur aja?’ dan masih banyak lagi pertanyaan setipe. Sebenernya saya yakin dengan keputusan saya untuk menjadi stay at home mom, setidaknya sampai Sina lulus asi. Tapi ya kadang omongan kanan kiri itu yang suka bikin galau, bikin mikir jangan-jangan yang mereka bilang itu benar. Dan biasanya pikiran itu bisa langsung saya tepis dengan melihat keceriaan kelincahan kecerdasan Sina.
Tapi dua bulan terakhir kemarin saya memang beneran galau karena masalah ini. Entahlah apa penyebabnya. Kalau dibilang saya jenuh, mungkin. Ya memang saya kurang berkegiatan di luar rumah. Iya sih saya bosan dengan rutinitas seputar beberes rumah. Kalo seputar Sina sih saya ga pernah ngerasa bosan karena selalu ada yang baru dan seru setiapharinya. Nah, setelah dipikir agak lama, iya bener, rutinitas seputar nyapu ngepel nyuci jemur setrika masak itu yang bikin saya jenuh dan sempat membuat saya berpikir kembali kerja di luar rumah. Tapi ya ga bisa langsung gitu juga, banyak banget yang harus dipertimbangkan jika saya ingin kembali bekerja di luar rumah. Faktor utama ya Sina. Ah, tak tega rasanya kalau saya harus kehilangan momen bersama Sina hanya karena keegoisan saya.
Saya sampaikan ke Akang kegalauan saya ini. Saya bilang semuanya. Saya bilang kuping panas banyak yang ngomong mulu, saya bilang saya ga enak kalo ingin apa-apa harus minta sama Akang. Dan jawaban Akang sungguh menenangkan hati. Dan saya semakin mantap untuk tetap di rumah saja. Lagipula saya tidak punya alasan syar’i untuk bekerja di luar rumah.
Alhamdulillah, Akang memberikan kebebasan untuk saya mau di rumah saja atau bekerja di luar asal keluarga tetap jadi prioritas. Ibu saya pun tidak pernah menuntut menyuruh saya tetap bekerja, semua  diserahkan kepada saya dan suami. Walaupun saya tau sih, ibu masih berharap saya bisa bekerja biar ga ada yang nanya ke ibu knp saya ga kerja, sayang ijazah, ngapain kuliah, dll.Kemarin ketika pulang ke rumah ibu dan kebetulan ada acara kumpul keluarga besar, sempat ada yang bertanya apakah saya memang ga akan kerja lagi? Pemasukan keluarga berkurang dong. Saya hanya tersenyum, males debat, hehe. Sesungguhnya, rezeki itu Allah yang atur. Kalau dipikir, mungkin memang pemasukan keluarga berkurang dari yang tadinya saya-Akang bekerja menjadi Akang saja yang bekerja. Tapi ternyata matematikanya Allah belum tentu seperti itu. Setelah saya resign, ternyata Allah menakdirkan Akang pindah kerja dan Alhamdulillah pemasukan keluarga justru lebih besar dibanding saat kami masih sama-sama kerja. Gaji Akang berkali lipat gaji saya dulu. Alhamdulillah. Terimakasih atas rezeki-Mu Ya Allah, terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan kepada hamba untuk mengasuh merawat dan mendidik langsung anak kami.
Saya tahu setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda, memiliki visi misi yang berbeda, tujuan berbeda. Saya juga tahu tidak semua ibu bisa beruntung seperti saya. Saya tidak pernah menyalahkan ataupun memandang sebelah mata kepada para ibu yang bekerja di luar rumah. Saya justru kagum pada mereka yang bisa membagi waktu, tenaga dan pikiran untuk anak, pekerjaan rumah dan karier. Dan saya selalu yakin bahwa tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya. Semua pasti ingin dan akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Mari saling menghargai dan #stopmomwar.

Wassalamualaikum